Minggu, 27 Januari 2013
Kamis, 24 Januari 2013
Tekstil bambu Bagaimana bambu yang dibuat menjadi benang? Carboniced bambu handspun
Tekstil Bambu biasanya kain, benang, dan pakaian yang terbuat dari serat Bambu. Pada jaman dulu, petani dan nelayan di China dan Jepang digunakan bambu untuk menenun sepatu dan topi untuk melindungi mereka dari unsur-unsur. Di barat, bambu digunakan bersama dengan whalebone dan kawat baja untuk korset perempuan, ramai dan mode wanita lain; selama 1800-an.
Saat ini, benang bambu dapat dicampur dengan yang lain Serat seperti kapas, rami, dan spandex.
Baru-baru ini, pada tahun 2003 mengajukan gugatan penemu US Patent 7313906 untuk mengubah selulosa bambu menjadi benang; menciptakan penggunaan baru untuk bambu di pakaian dan TEKSTIL rumah.
Tercantum di bawah ini adalah langkah-langkah yang digunakan untuk memproses bambu mentah menjadi benang untuk produk konsumen
1). Uap digunakan untuk menghilangkan daun bambu dan kulit ari dari batang bambu, maka daun dan empulur yang hancur.
2). Hancur bambu kemudian direndam dalam Natrium Hidroksida *- untuk menghasilkan selulosa bambu.
* Kesalahpahaman yang umum adalah bahwa Natrium Hidroksida adalah suatu bahan kimia berbahaya. Seperti banyak bahan kimia, bila digunakan secara bertanggung jawab, Natrium Hidroksida tidak berpengaruh pada lingkungan atau kesehatan para pekerja.
- Natrium Hidroksida secara rutin digunakan untuk PROSES KAPAS ORGANIK ke dalam serat dan DISETUJUI OLEH ORGANIK GLOBAL TEKSTIL STANDAR (GOTS) DAN TANAH ASOSIASI. Natrium Hidroksida TIDAK TETAP sebagai residu pada pakaian karena mudah dibersihkan dan dinetralkan GARAM natrium sulfat tidak berbahaya dan tidak beracun.
3). Selanjutnya, selulosa bambu dipaksa meskipun nozel, mirip dengan saringan, ke penangas asam yang mengeras solusi menjadi benang serat bambu dan menetralkan Sodium Hidroksida.
4. Serat bambu ini kemudian dipintal menjadi benang bambu dan berguling gulungan.
Lingkungan nurani dan produsen berprinsip menggunakan sistem loop tertutup untuk memproses bambu menjadi benang. Proses loop tertutup menangkap dan mengambil kembali pelarut kimia yang digunakan dalam proses manufaktur. Hasil akhirnya adalah bambu / viscose dari bambu sangat lembut untuk disentuh.
Sumber : http://id.prmob.net/benang/bambu-tekstil/jepang-1538650.html
Pakaian Dalam Anti Bakteri Berasal Dari Pohon Bambu
Pakaian Dalam Anti Bakteri Berasal Dari Pohon Bambu
Sumber:http://bdguptodate.com/
Bandung,- Sejumlah pakaian dalam yang
diklaim anti bakteri produksi industri tekstil luar negeri menggunakan
bahan baku pohon bambu, tetapi dituliskan dilabel pakaiannya dengan
kalimat ‘rayon made of bamboo’ dalam setiap hasil produksinya.
Alasan dari industri tekstil luar negeri
non penghasil pohon bambu tidak mencantumkan bambu dalam label pakaian,
karena dianggap bisa mengambil-alih pasar kapas.
Menurut Peneliti Bambu Nusa Verde
berkebangsaan Belgia, Marc Peeters, alasan industri tekstil menggunakan
bahan dasar bambu, karena pada dasarnya pohon bambu tidak pernah
diserang hama dan praktis pemeliharaannya. Selain itu bisa diolah
menjadi bahan dasar produksi pakaian.
“Sampai saat ini bahan baku untuk pakaian
dari kapas, tetapi masalahnya kapas itu harus disemprotkan pestisida,
sedangkan bambu tidak perlu diberikan pestisida dan bisa menghasilkan
rayon,” kata dia.
Marc Peeters mengatakan rayon merupakan
hasil pengolahan pohon bambu menjadi pupuk, tetapi ketika diolah dengan
beberapa bahan kimia, bisa menghasilkan serat untuk dijadikan benang.
Dia menganggap ketakutan industri tekstil
luar negeri dengan tidak mencantumkan pohon bambu dalam label pakaian
yang diproduksinya, disebabkan dinegaranya pohon bambu tidak bisa
ditanam. Tetapi negara non penghasil bambu itu tidak mau membeli dengan
harga tinggi untuk setiap pohonnya kepada negara penghasil bambu.
Statistik terakhir menyatakan sebanyak
1.250 jenis bambu di dunia, 140 jenis atau setara dengan 11% dari jumlah
jenis bambu dunia, adalah spesies asli dari Indonesia. (Arie Nugraha)
Sumber : http://bamboeindonesia.wordpress.com/tekstil-dari-bambu/berita-tekstil-bambu/
Sumber Gambar :
Tekstil dari Serat Bambu
Madagaskar Yatak Örtüsü
Pakaian Dalam Anti Bakteri Berasal Dari Pohon Bambu
Sumber:http://bdguptodate.com/
Bandung,- Sejumlah pakaian dalam yang
diklaim anti bakteri produksi industri tekstil luar negeri menggunakan
bahan baku pohon bambu, tetapi dituliskan dilabel pakaiannya dengan
kalimat ‘rayon made of bamboo’ dalam setiap hasil produksinya.
Alasan dari industri tekstil luar negeri
non penghasil pohon bambu tidak mencantumkan bambu dalam label pakaian,
karena dianggap bisa mengambil-alih pasar kapas.
Menurut Peneliti Bambu Nusa Verde
berkebangsaan Belgia, Marc Peeters, alasan industri tekstil menggunakan
bahan dasar bambu, karena pada dasarnya pohon bambu tidak pernah
diserang hama dan praktis pemeliharaannya. Selain itu bisa diolah
menjadi bahan dasar produksi pakaian.
“Sampai saat ini bahan baku untuk pakaian
dari kapas, tetapi masalahnya kapas itu harus disemprotkan pestisida,
sedangkan bambu tidak perlu diberikan pestisida dan bisa menghasilkan
rayon,” kata dia.
Marc Peeters mengatakan rayon merupakan
hasil http://www.bambutekstil.com/bambu-havlu/487-bambu-havlu-50-90.htmlpengolahan pohon bambu menjadi pupuk, tetapi ketika diolah dengan
beberapa bahan kimia, bisa menghasilkan serat untuk dijadikan benang.
Dia menganggap ketakutan industri tekstil
luar negeri dengan tidak mencantumkan pohon bambu dalam label pakaian
yang diproduksinya, disebabkan dinegaranya pohon bambu tidak bisa
ditanam. Tetapi negara non penghasil bambu itu tidak mau membeli dengan
harga tinggi untuk setiap pohonnya kepada negara penghasil bambu.
Statistik terakhir menyatakan sebanyak
1.250 jenis bambu di dunia, 140 jenis atau setara dengan 11% dari jumlah
jenis bambu dunia, adalah spesies asli dari Indonesia. (Arie Nugraha)
Sumber :
http://bdguptodate.com/index.php?page=view&class=Berita&id=120316204411
http://bamboeindonesia.wordpress.com/tekstil-dari-bambu/berita-tekstil-bambu/
Sumber Gambar :
http://www.bambutekstil.com/bambu-havlu/487-bambu-havlu-50-90.html
http://bdguptodate.com/index.php?page=view&class=Berita&id=120316204411
Langganan:
Postingan (Atom)



